Karya-karya di Kampus Putih Berdaun Ungu

Sejak tamat SMEA Negeri Kalabahi pada tahun 1985, saya bergumul untuk studi teologi di STT di Jawa, tepatnya di Yogyakarta. Akan tetapi gagal karena kendala biaya. Kemudian saya berjuang dengan cara berangkat dari Alor menuju Kupang dan bergabung dengan rekan-rekan dalam pelayanan Persekutuan Doa. Suatu saat saya memutuskan berpuasa untuk studi di Jakarta. Saya menjalani puasa selama 3 hari tanpa makan dan minum, hari ketiga badan saya terasa sangat panas dan lelah, tak mampu berjalan. Setiap jam 9, 12 dan Jam 3 saya berdoa di tempat bekas WC yang terbuat dari pagar batu karang, di dalamnya ada sebuah batu persegi dari batu karang. Waktu itu saya tinggal dengan tante saya namanya Jublina Moldena-Muanley, tante yang ramah dari sekian saudara Bapa saya.  Tempatnya di Pasir Panjang. Selama 3 hari itu sesuai jam yang saya sebutkan, saya lakukan doa. Saya sudah beritahu adik-adik sepupu (anak-anak dari tanteku): Paulina Moldena, Sipora Moldena, Riner Noverdikson Moldena bahwa pada jam-jam yang saya tentukan mereka tidak boleh mengganggu saya. Mereka menghormatinya. Trimakasih untuk adik-adikku tersayang. Setelah berpuasa, beberapa hari kemudian datang seorang saudari dan berkata: ia bermimpi saya memakai jubah putih. Mendengar itu rasa senang, inginku adalah cepat terwujud kerinduan sekolah teologi. Puji Tuhan, setelah beberapa bulan saya mendaftar ke STT Paulus Jakarta dan diterima. Kemudian saya mendapat panggilan untuk segera ke Jakarta. Pada waktu saya mendapat jawaban via surat, saya merasa sangat bahagia karena rinduku yang bertahun-tahun di jawab Tuhan.
Akan tetapi masalah yang saya hadapi adalah tidak ada uang untuk berangkat dalam waktu singkat. waktu itu ada kakak perempuan, namanya Martha Muanley menolong saya dengan uang Rp 100.000,00. Kami harus berangkat dengan pesawat. Kami mulai mencari tiket dan mendapat tiket seharga Rp 90.000,00 an (saya sdh lupa angka persisnya), pesawat yang kami tumpangi adalah Bouraq yang beroperasi dari Kupang-Denpasar sekitar tahun 1988. Setelah mendapat tiket dan mendapat kepastian keberangkatan, saya menyampaikan pada tante saya bahwa besok pagi saya harus berangkat, tanteku kaget mendengar, dari raut wajahnya nampak sedih, saya kemudian memeluk tante saya, dan saya bilang tante tidak apa-apa. Tante sudah banyak menolong saya, ia berkata nak kita harus ibadah untuk keberangkatanmu, malam itu diadakan ibadah singkat, ada saudara sepupu saya yang pada waktu itu datang dari Alor ke Kupang dan membawa seekor ayam, ia setuju ayamnya dipotong untuk syukuran. Beberapa hari sebelum keberangkatan, tante saya mendapat Porkas. Waktu itu rame Porkas, ia bilang ke saya, nak ini sedikit uang dari tante, ya tante. Esoknya saya berangkat menuju Bali.Selanjutnya dari Bali ke Jakarta dengan Bus.
Setelah III semester di STT Paulus pindah ke STTIA sampai selesai 1992/1993. Kemudian diutus perintisan Jemaat di Sumba Barat (Loli atas). Tahun 1994 kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai staf dan asisten dosen sampai menjadi dosen. Tahun 1994 - 2010 bekerja sebagai staf dan dosen, tahun 2010 merantau. Maksudnya tidak lagi di Kampus yang menamatkan dan memberi peluang terindah dalam kekaryaan saya.
Saya kemudian diterima di salah satu STT atas refrensi rekan saya Pdt. Uli Saut P. Nainggolan. Waktu itu rakan saya menyatakan jika kamu sudah pasti tidak lagi di STTIA maka namamu kami usulkan menjadi dosen tetap di STT yang sekarang. Saya pun menyatakan ya pasti, saya sudah memutuskan. Pada waktu saya mengantar surat pengunduran, di atas mobil saya bergumul dengan ikatan emosional yang begitu kuat dalam diri saya, maklum karena sudah relatif lama yaitu dari tahun 1994 - 2010. Pada waktu turun dari trans Halim di Cililitan, saya mendapat SMS bahwa saya sdh diterima menjadi dosen tetap dan mendapat NIDA. Sebuah penghiburan bagi saya waktu itu yaitu bahwa Tuhan memberi jalan keluar, akan tetapi saya masih bergumul dengan ikatan emosional. Seiring dengan berjalannya waktu saya harus menormaliasikan perasaan saya. Saya harus menerima fakta bahwa saya berada di tempat lain dengan warna yang sama. Oleh karena itu maka judul weblog ini berdaun ungu. Apa maksud saya memakai istilah Kampus Putih Berdaun Ungu. Akan saya jelaskan berikut ini:
Kampus Putih adalah sebuah ungkapan saya untuk menggambarkan STT yang menjadi tempat mendidik anak-anak/mahasiswa dengan firman Allah. Putih sebagai simbol kesucian, kelompok yang berbahasa Zion
Sedangkan berdaun ungu maksudnya warna jaket almamaternya berwarna ungu.  Sedangkan karya-karya saya meliputi kegiatan mengajar, membimbing dan menulis bahan ajar khususnya melalui weblog.
Tahun 2010 dan 2011 setelah saya diterima sebagai staf tetatp di STT IKSM SA, saya mulai memanfaatkan weblog untuk bahan-bahan Ajar dan juga memakai weblog untuk Program Pascasarjana, juga memakai weblog untuk Ekonomi Burung Gagak Elia.
Beberapa karya di STT IKSM SA

Gambar setelah Kolokium Prposal Skripsi


 Bersama Mahasiswa Kampus Ungu Kecil (Kampus Putih Berdaun Ungu)


Komentar

  1. Pengalaman yang menarik om.. semoga Defi juga bisa seperti itu

    BalasHapus

Posting Komentar